PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Prototipe sustainable living Lebih dipandang sebagai salah satu pendekatan penting Untuk membangun kota yang mampu menjawab tantangan masa Di.
Hingga Ditengah Kemajuan kawasan perkotaan, Prototipe ini dinilai tidak hanya berkaitan Di pelestarian lingkungan, tetapi juga menyangkut Standar hidup Komunitas, pemerataan ekonomi, hingga Sustainability pembangunan Untuk generasi berikutnya.
Baca Juga: Paramount Petals Perkuat Prototipe Kota Hijau Lewat Optimalisasi RTH
Kepada PropertiTerkini.com, Ketua Ikatan Ahli Perancangan (IAP), Adriadi Dimastanto, mengatakan bahwa sustainable living merupakan Cara Hidup sekaligus pendekatan pembangunan yang bertujuan memenuhi kebutuhan Pada ini tanpa Mengurangi kesempatan generasi mendatang Untuk menikmati Standar lingkungan yang sama.
“Esensi Di sustainable living adalah bagaimana memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan generasi mendatang. Lantaran itu, penggunaan sumber daya harus efisien, jejak karbon ditekan, limbah dikurangi, serta tercipta Kesejajaran Di aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi,” ujarnya.
Menurut Adriadi, meningkatnya perhatian Pada sustainable living tidak lepas Di Lebih besarnya tekanan Pada daya dukung lingkungan akibat urbanisasi dan pembangunan kota yang berlangsung cepat.
Kemakmuran tersebut menuntut perubahan cara pandang Untuk merancang kawasan agar tidak hanya nyaman dihuni Pada ini, tetapi juga tetap layak Untuk generasi mendatang.
Baca Juga: Green Living Hingga BSD City Diperkuat, Wujudkan Kota Modern Berkelanjutan Hingga Indonesia
Tiga Pilar Sustainable Living
Untuk perspektif IAP, terdapat tiga pilar utama yang menjadi indikator apakah sebuah kawasan benar-benar menerapkan Prototipe sustainable living.
Pilar pertama adalah ramah lingkungan atau Sustainability lingkungan. Implementasinya mencakup penghijauan, efisiensi penggunaan energi dan air, pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, hingga penyediaan sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan.
Pilar kedua adalah inklusivitas sosial. Kawasan yang berkelanjutan perlu menyediakan ruang publik yang Mendorong Komitmen antarwarga, Memperkenalkan fasilitas yang mudah diakses seluruh lapisan Komunitas, serta Memberi perhatian Pada kenyamanan pejalan kaki.
“Pembangunan kota harus Memperkenalkan ruang sosial yang dapat dinikmati semua kalangan. Pejalan kaki juga harus dimanusiakan Agar Komunitas Memiliki pilihan mobilitas yang lebih sehat dan nyaman,” jelas Adriadi yang juga akrab disapa Dimas.
Baca Juga: Sharp Indonesia Tanam 600 Pohon Untuk Pulihkan Habitat Elang Jawa Hingga Bogor
Adapun pilar ketiga adalah inklusivitas ekonomi. Menurut Dimas, pembangunan kawasan sebaiknya tidak hanya menciptakan Kemungkinan Untuk pelaku usaha besar, tetapi juga membuka ruang Untuk Usaha Kecil Menengah, memperluas kesempatan kerja, dan Mendorong tumbuhnya ekonomi lokal.
Transportasi dan Ruang Publik Menentukan Prestasi
IAP menilai Prestasi penerapan sustainable living sangat dipengaruhi Di cara sebuah kota mengelola sistem mobilitas.
Dimas menyoroti bahwa banyak kawasan perkotaan masih berkembang Di pola yang bergantung Ke kendaraan pribadi (car-dependent city). Pola tersebut dinilai kurang mendukung Sustainability Lantaran Berpotensi Untuk Memperbaiki kemacetan, konsumsi energi, dan emisi karbon.
Baca Juga: Rukita Tekan Intensitas Karbon 77% Hingga Bawah Standar Dunia, Masuk Daftar Impact Story 2025 Perserikatan Bangsa-Bangsa
Sebagai Alternatif, kawasan perlu dirancang agar Komunitas Memiliki akses yang mudah Pada transportasi umum serta jaringan pejalan kaki yang aman dan nyaman.
“Transportasi umum harus diprioritaskan. Ketika Komunitas Memiliki pilihan Untuk berjalan kaki atau menggunakan angkutan umum, jejak karbon dapat ditekan dan Standar lingkungan ikut Menimbulkan Kekhawatiran,” ungkapnya.
Selain sistem transportasi, ruang terbuka hijau juga menjadi elemen penting Untuk membangun kota yang berkelanjutan. Keberadaan taman lingkungan, ruang bermain anak, jalur hijau, hingga ruang publik dinilai mampu Memperbaiki Standar udara sekaligus memperkuat Komitmen sosial Komunitas.
Baca Juga: 5 Tren Hunian Masa Di yang Mulai Di Sebab Itu Sorotan Hingga Asia Pasifik
Jangan Berhenti Ke Jargon
Meski istilah sustainable living Lebih sering digunakan Untuk Pembaruan kawasan, Adriadi mengingatkan bahwa Sustainability tidak boleh berhenti sebagai Prototipe pemasaran.
Menurutnya, implementasi nyata menjadi ukuran utama Prestasi sebuah kawasan Untuk menerapkan prinsip Pembangunan Berkelanjutan.
Harapan tersebut juga menjadi arah Untuk Pembaruan township maupun kawasan perkotaan Hingga Indonesia agar lebih mengedepankan Kesejajaran Di lingkungan, kehidupan sosial, dan Kemajuan ekonomi, dibanding sekadar mengejar pembangunan fisik.
Baca Juga: Kolaborasi Nestlé Indonesia, Waste4Change, dan Arkadia Green Park Bangun Kebiasaan Kelola Sampah
“Pembangunan harus berpijak Ke Sustainability lingkungan, inklusivitas sosial, dan inklusivitas ekonomi Agar apa yang dibangun hari ini tidak mengorbankan kepentingan generasi mendatang, melainkan Memberi manfaat Untuk generasi penerus,” tutup Adriadi, ketua IAP periode 2025-2028.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga Hingga: PropertiPlus.com dan WA Chanel
*** Baca berita lainnya Hingga GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: [email protected]
Email Iklan: [email protected]
Artikel ini disadur –> propertiterkini.com Indonesia: Sustainable Living Di Sebab Itu Kunci Kota Berkelanjutan, IAP Ungkap Tiga Pilar Utamanya











